03
Mar
09

ilmu pertanian & peternakan

agriculturesupercamp.wordpress.com

Usir Serangga

Lebih Aman Tanpa Racun
Serangga tidak perlu dibunuh. Dihalau saja sudah cukup. Beragam ramuan alami bisa di gunakan untuk menghalau serangga.

Sikap serakah manusia sering membuat nasib mahluk lain menjadi kian terjepit. Contohnya serangga. Binatang berkaki enam ini dijuluki hama lantaran sering dianggap merugikan manusia. Maka tidak heran bila keberadaan serangga selalu dianggap sebagai ancaman.

Terciptalah pestisida. Senjata kimia pembasmi hama. Namun, senjata pembantai serangga ini ternyata justru melahirkan dampak merugikan bagi penciptanya. Pestisida sintetis bisa menganggu kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup.

Berikut ini akan diuraikan beberapa cara arif mengendalikan populasi serangga di kebun. Cara pertama bisa dilakukan dengan menolak serangga dengan aroma. Berbagai tanaman beraroma khas bisa di gunakan sebagai tanaman penolak serangga. Tanaman seperti ini bisa ditanam secara tumpangsari dengan tanaman pokok yang dibudidayakan. Contoh tanaman itu yakni tomat, bawang daun dan bwang merah.

Aroma yang dihasilkan oleh tanaman juga bisa digunakan untuk menarik perhatian alias menipu binatang pemangsa daun itu. Sehingga serangga bergerombol di atas pohon penjebak. Tanaman pokok pun terhindar dari incara serangga. Contohnya yaitu tanaman tagetes, selasih dan kemangi.

Tanaman berdaun lunak dan memiliki daya tahan lebih lemah juga bisa dipakai sebagai tanaman penjebak. Dengan cara ini diharapkan serangga lebih senang memilih tanaman penjebak, lantas memangsa tanaman tersebut sampai kenyang. Tanaman pokokpun menjadi terlupakan dan selamat. Contoh tanaman penjebak yaitu tanaman jagung varietas lokal.

Adakalanya Anda harus menyemprotkan zat-zat penghalau serangga. Abnda bisa meramunya sendiri. Contongnya dengan campuran air dan bawang, campuran daun tembakau, campuran air daun tomat, campuran daun mimba dan campuran daun sirsak.

Cara lain agar tanaman Anda terhindar dari incaran hama yaitu dengan jalan menanam tepat pada musim tanam yang benar. Dengan cara seperti ini kondisi fisik tanaman menjadi vit. Sehingga bisa tetap berproduksi secara optimal, meski beberapa beberapa helai daun harus sedikit dikorbankan untuk menu haria serangga.

Tentu tak akan menimbulkan kerugian besar bila Anda rela berbagi sedikit rejeki dengan serangga. Semakin Banyak Anda menanam, semakin banyak pula Anda menuai. Artinya, semakin bnyak memberi, semakin banyak pula Anda menerima.

Semoga kita bisa menjadi petani yang kian arif (Franz J.B).

PETERNAKAN

MARI KITA BERHITUNG ! ! !

Peternak memelihara 12 ekor Induk Domba, itu berarti maka dalam waktu 1 bulan dapat dihasilkan Potensi Pendapatan dari Kotoran dan Urine Domba ini yaitu sebesar:

Feces Kering, Rp. 113.400,-
(12 ekor Induk Domba x 0,63 Kg per hari x Rp. 500,- x 30 hari)

Urine Domba, Rp. 3.240.000,-
(12 ekor Induk Domba x 0,6 Liter per hari x Rp. 15.000,- x 30 hari)

Potensi Pendapatan dari Feces Kering dan Urine Domba adalah Rp. 3.353.400,- per bulan ! ! ! Atau Rp. 40.240.800,- per tahun dari 12 ekor Induk Domba. Dengan Jumlah Total Investasi Permodalan yaitu sebesar Rp. 26.900.000, per tahun maka Alhamdullilah di mana Insya Allah ada Potensi Keuntungan sebesar Rp. 13.340.800,- per tahun. Belum ditambah Hasil Penjualan Anak Domba sebesar Rp. 5.400.000,-, STOP, STOP, STOP, Peternak akan membuka Kandang Baru untuk PEMBIBITAN dan Membantu Masyarakat lainnya ! ! ! Beternak Semakin Untung ! ! ! Terlebih bilamana dijalin Konsep Kemitraan Bagi Hasil & Pemberdayaan Masyarakat dalam Usaha Ternak, Majulah Usaha Ternak dan Perekonomian Indonesia ! ! ! Amin.

Pemakaian Kotoran dan Urine ternak Domba untuk Kebutuhan Lahan Sayuran ataupun Pertanian dan Perkebunan Organik akan semakin lebih meningkatkan nilai ekonomisnya tentu, nantikan liputannya. Salam Peternak & Petani Organik ! ! ! Sebagai informasi tambahan lainnya, di Villa Domba dihasilkan kurang lebih 400 liter urine ternak Domba per minggu untuk Kebutuhan Lahan Perkebunan Organik dari 100 ekor Induk Domba Betina Dewasa (Parent Stock).

(100 ekor x 0.6 liter per hari x 7 hari)

Sedang coba ditelusuri teori dan referensi di mana Urine Induk Domba Betina adalah jauh lebih baik dibandingkan Induk Domba Jantan. Saran dan Masukan senior sekalian sangatlah dibutuhkan tentunya. Harga Urine di atas adalah Urine yang telah difermentasi, sedangkan harga Urine Murni dipasaran adalah Rp.1.500,- per liter.

Note:
Mohon ijin Blog Domba Garut dan Organic Indonesian Vanilla tidak up date sementara waktu s.d hari Minggu tanggal 02 Maret 2008 dikarenakan Tugas Lapangan yang harus dilaksanakan oleh Penulis. Salam Peternak ! ! !


impian-kami

Selasa, 2008 Juni 10

IMPIAN KAMI

Hijau& Sejukkan Negeriku: ”Pah, nulis lagi lah untuk bisa berbagi pengalaman, suka dan duka dalam agribisnis.” pinta penulis kepada pak Suhadi, sang creator sekaligus ayah bagi penulis. ”Tugas kamu lah itu sebenarnya. Yang muda yang tampil dan bicara.” jawabnya. ”Tapi yang tua pastinya tetap tampil juga untuk membina dan mengayomi yang muda dengan pengalaman dan jam terbangnya.” balas penulis. Yes, akhirnya pak Suhadi pun luluh, di tengah kesibukannya maka ia pun akan mencoba memberikan kontribusi terhadap keberadaan Blog ini melalui tulisan yang coba beliau buat, ”Menulis harus dengan hati dan sesuai apa yang kita sudah alami terkait Agribisnis.” ucapnya sebagai saran yang selalu disampaikan kepada penulis. Sebuah menu khusus yaitu Sang Penggagas coba penulis buat pada Blog ini. Berikut share pengalaman dari pak Suhadi, penggagas Villa Domba:

Yang dipilih untuk proyek masa depan kami adalah tanah murah walau dengan resiko tanah yang dibeli adalah lahan kritis, lahan berupa padang alang alang dan kebun singkong awalnya. Apa boleh buat. Kami mulai dengan 100 tumbak (1 tumbak = 14m2), dan langsung kami garap dengan membuat terasering serta menanam tanaman keras. Saat itu pembelian tanah pertama kali tanggal 26 januari 2003, secara bertahap dan penduduk sekitar mulai menawarkan lahannya yang kritis tersebut kepada kami, bila harga wajar kami beli sehingga keberadaan kami tidak mempengaruhi harga tanah di sekitar kebun. Demikian seterusnya sampai kurang lebih ada 29 transaksi, selama lebih dari tiga tahun…….Beli, langsung kami garap sehingga saat ini kami memiliki lahan seluas kurang lebih 7 hektar, semuanya dilereng bukit.

Kebun kami berada pada ketinggian 750 m di atas muka laut, memiliki sumber air (mata air) di kaki bukit sehingga kami perlu memompanya untuk penyiraman dimusim kemarau. Selain bak air penampung, kami banyak membuat jalan jalan setapak agar tanaman tidak terinjak injak. Tanah, kami bagi bagi menjadi kapling kapling, tiap kapling kami bedakan peruntukkannya . Untuk kebun vanili, kapling dihutankan dulu agar lebih teduh dan cocok untuk vanili, atau tanaman sejenisnya seperti lada . Tanaman keras dan buah buahan pada tempat lebih terbuka karena perlu banyak sinar matahari. Sebutan cocok untuk kebun kami adalah Multi Crops Agricultures. Tanaman buah, tanaman hias, rempah rempah, sayur mayur, oh alangkah banyak pilihan. Apakah semua komersial, atau sebagian hanya untuk hiasan saja? Nanti hasilnya untuk apa? Dijual atau dikonsumsi sendiri, atau kombinasii keduanya? Dalam menentukan pilihan, kami telah mempertimbangkan beberapa aspek, misalnya: iklim, ketinggian dari muka laut, sumber air, curah hujan, luas lahan, intensitas cahaya, struktur tanah, komposisi tanah, tenaga kerja, keamanan, masa panen, umur tanaman, modal, persaingan usaha, transportasi, pasar, harga produk dan fluktuasii harga, orientasi pasar domestik atau ekspor. Kami berpendapat, kebun dengan hanya satu atau dua tanaman akan sangat rawan terhadap fluktuasi pasar atau kegagalan tanam karena tidak cocok: contoh kebun cengkeh, tanaman palawija, strawberry. Sementara kami yang menjelang pensiun, waktu dan dana adalah sangat sensitif………..Sehingga perlu dihitung secara cermat. Tanaman hias menurut pendapat kami kurang pas karena kami pemula………Bisnis tanaman hias sangat sarat dengan persaingan. Perlu timing yang pas untuk masuk ke dunia tanaman hias agar masih sesuai dengan trend pasar. Sementara pemain pemain lama sangat menguasai teknologi untuk mengikuti trend pasar. Bila tetap jadi pilihan maka kita harus siap siap mencari strategi bagaimana bersaing dengan pemain lama.

Mensiasati lahan yang kurang begitu luas dan resiko kegagalan yang besar yang tidak boleh terjadi, kami lebih memilih sistim tumpang sari dengan harapan adanya peluang mendapatkan hasil kebun secara berkesinambungan dan optimal. Untuk kebutuhan jangka panjang, kami memilih tanaman keras (Jati, Manglid, Mahoni), diharapkan tanaman tersebut dapat dipanen setelah 10 tahun ke atas, untuk tanaman jangka menengah (Sengon, Durian, Mangga, Lengkeng) dapat dipanen setelah 5 – 10 tahun, serta kebutuhan jangka pendek (Kopi, Vanili, Kemiri) dapat dipanen dibawah 5 tahun. Selain tanaman kebun, kami juga melengkapi koleksi dengan berbagai rumput dan hijauan untuk pakan ternak . Setelah 5 tahun dengan konsep tumpang sari, lahan kami saat ini layaknya seperti hutan lindung. Berubah dari keadaan awalnya yang saat itu berupa lahan kritis. Kebutuhan pupuk, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri karena kami memiliki ternak domba yang saat ini berjumlah 250 an ekor. Dengan sistim tumpang sari, seolah olah kami saat ini memiliki lahan 3 – 4 kali lebih luas dari yang sebenarnya. Perlu diperhatikan, dengan sistim ini maka pasokan pupuk harus prima dan dapat mencukupi semua kebutuhan tanaman. Catatan kami, kebutuhan pupuk di kebun saat ini sebanyak 30 ton per hektar untuk dua kali pemupukan, yaitu untuk awal musim kemarau dan awal musim hujan. Perlu juga diperhatikan kondisi lingkungan dari lokasi yang digunakan untuk tumpang sari harus dapat diterima oleh masing masing jenis tanaman, baik untuk pertumbuhan tanaman ataupun untuk perakarannya. Tanaman yang suka teduh tidak dapat dicampur dengan tanaman yang suka sinar. Tanaman berakar serabut jaraknya harus diperhitungkan terhadap perakaran tanaman lainnya. Dengan demikian tanaman akan hidup berdampingan secara sehat tidak tumpang tindih.

Pilihan domba bukan kambing, alasan utamanya karena kami masyarakat Jawa Barat lebih akrab dengan domba dibanding kambing. Apalagi Domba Garut sangat populer dan punya banyak nilai tambah dibanding domba biasa. Seperti telah disampaikan, peternakan kami didirikan dengan tujuan utama sebagai sumber pupuk. Agar mencukupi kebutuhan,……Kami saat ini memiliki 250 an ekor ternak domba Garut. Kelebihan dombanya kami jual untuk kebutuhan aqiqah, daging qurban dan bibit untuk peternak lainnya. Saat ini selain dijual, kami sedang melaksanakan sistim bagi hasil dengan petani dan peternak lain agar kami tidak perlu menambah kapasitas kandang dan pakannya. Konsep bagi bagi rezeki melalui hubungan inti-plasma ternyata banyak diminati calon peternak. Alhamdullilah……….

Berkat Kerja keras, saat ini lahan kritis sudah menghijau bahkan cenderung menghutan. Pada tahap awal kami telah memiliki 6000 pohon vanili dan sudah 100 pohon kami petik buahnya sebagai panen perdana. Kopi Arabika sudah belajar berbuah…., panen perdana kami 1,5 kintal…., Durian sedang belajar berbuah. Jati sudah mencapai tinggi 10 m dan diameter 15 cm. Alhamdullilah, saat ini kami sedang memproses hasil kebun (Kopi dan Vanili) untuk dipromosikan dan dijual. Saat ini sedang kami siapkan penanaman vanili tahap dua sebanyak 2000 pohon . Pengembangan vanili kami laksanakan secara bertahap karena perlu proses pematangan lahan sambil menunggu bibit baru produksi sendiri.

Kondisi kebun kami kerap dikunjungi petani, peternak, mahasiswa PKL, penelitian dan masyarakat yang ikut pelatihan serta calon pembeli produk kami, baik dari Dalam bahkan dari Luar Negeri. Konsep agrobisnis kami adalah menangani kegiatan hulu dan hilir, tidak punya keinginan untuk menjual mentahnya yang selama ini menjadi pekerjaan para pengumpul dan pengijon. Kami mau jual sendiri ke pasar (belajar dari pengalaman pahit petani vanili), walaupun harus melalui prosedur ekspor. Tentunya kami harus memiliki kemampuan untuk memasarkan, mengerti keinginan konsumen serta tahu prosedur ekspor. Insya Allah, kami akan kerja keras dan banyak belajar walaupun untuk seorang petani pemula akan terasa berat………Tapi hanya inilah caranya……., bagaimana agar produksi kita masih bisa dihargai oleh pasar, tanpa dirusak, atau dirugikan oleh faktor diluar petani………….Bismillah………………….

PETANI BALI MEMANFAATKAN PUPUK ORGANIK

Ketut Wiantara terlihat sangat senang. Wajahnya berseri-seri ketika bercerita. Bibirnya terus tersenyum. Padahal bau pesing menyengat dari ember di depannya. Ketut sedang memasukkan air kencing sapi dari ember kecil ke galon berukuran 750 liter. Air kencing sapi itu memang berperan penting meningkatkan pendapatannya dari bertani. ”Sekarang jauh berbeda,” katanya Sabtu lalu.

Petani di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, sekitar 60 km utara Denpasar itu semula menggunakan pupuk kimia dan pestisida untuk bertani. Penggunaan bahan kimia yang terlalu banyak membuatnya rugi. “Pendapatan lebih sedikit sementara biaya untuk beli pupuk dan pestisida juga banyak,” katanya. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida terus menerus juga menurunkan kesehatan tanah. Akibatnya, jumlah panen makin hari makin berkurang. Maka, sejak tiga tahun lalu dia beralih menggunakan bahan organik untuk bertani. Salah satu bahannya adalah air kencing sapi tersebut.

Air kencing sapi itu berasal dari empat ekor sapi miliknya. Dari kandang, air kencing itu disalurkan melalui selang ke bak penampungan dari semen dengan kapasitas 1 kubik. Untuk menghilangkan amoniak, zat yang berbahaya bagi tanaman, air kencing disalurkan ke semacam tangga kecil dari semen setinggi 2 meter. Selama enam jam air diputar lalu dialirkan lagi ke kolam lain berkapasitas 1 kubik juga.

Setelah mengendap dan tanpa amoniak, air kencing itu dicampur air biasa dengan rasio 1 liter kencing sapi untuk 10 liter air. Air campuran itu ditampung di bak besar berkapasitas 1000 liter. Dari bak besar ini, pupuk cair organik itu mengalir melalui pipa kecil ke 25 are lahan miliknya. Bahan organik itu sebagai pupuk sekaligus pengendali hama.

Sabtu lalu, Ketut Wiantara sibuk memeriksa tanaman paprikanya. Di pohon setinggi 1 hingga 2 meter itu bergantungan buah paprika berwarna hijau ranum tanda akan segera dipanen. Tanaman paprika itu ada di lahan beratap dan berdinding plastik seluas 4 are. Ketut menggunakan teknologi irigasi tetes (semi hidroponik). Pupuk organik cair itu dia alirkan melalui pipa kecil yang berlubang di tiap bagian di mana tanaman paprika berada. Pupuk cair itu dan abu sekam terbungkus plastik menjadi media tanam paprika. Ketut tidak perlu tanah untuk menyuburkan tanaman yang terlihat segar-segar tersebut.

Selain tanaman paprika, di kawasan berhawa sejuk itu, Ketut juga menanam wortel, ketela rambat, selada, sayur hijau, dan stroberi. Dengan semua tanaman itu, sarjana ekonomi lulusan salah satu universitas di Singaraja itu kini bergantung sepenuhnya dari bertani. Ketut mengaku perubahan itu makin terasa setelah dia beralih pada pertanian organik.

Informasi tentang pertanian organik sendiri, menurutnya, diperoleh dari internet. Ketut dan petani lain di Bedugul mendapat bantuan komputer dan internet dari Microsoft, raksasa perusahaan teknologi informasi dunia. Dari internet, Ketut dan teman-temannya mendapat informasi tentang teknologi pertanian organik tersebut. “Kami pikir tidak susah untuk dicoba di tempat kami,” katanya.

Sebagai awalan, Ketut sendiri mencoba di 4 are lahannya. Dia pinjam modal dari bank Rp 30 juta untuk memulai praktik pertanian organik. Merasa hasilnya bagus, Ketut lalu mempraktikkannya di total 25 are lahan miliknya. Dia pinjam modal lagi Rp 70 juta.

Hasil pertanian organik itu memang lebih berlimpah. Dia mempekerjakan dua pekerja tetap dan empat pekerja harian untuk memeriksa, membersihkan, hingga memanen hasil tanaman itu. Kini dia bisa mendapat penghasilan Rp 10 juta per bulan dari pertanian tersebut. Pesawat televisi datar 21 inchi, satu set komputer, dan DVD player menghiasi ruang tamu. Antena parabola berada persis di sebelah sanggah rumah.

Hal yang sama juga dirasakan beberapa petani lain di Bedugul. Melalui Bali Organic Association (BOA), produk hasil petani yang tergabung dalam kelompok Tani Muda Mandiri itu dikirim ke konsumen di Denpasar dan Kuta. Misalnya saja Aero Catering Service di kompleks bandara Ngurah Rai Tuban yang tiap hari melayani minimal 2000 penumpang. Manik Organic dan Bali Budha, kios di Kuta, juga pelanggan sayur organik produksi Ketut dan petani lain di Bedugul.

Menurut Ketua BOA Ni Luh Kartini, pertanian organik memang mampu meningkatkan pendapatan petani di Bali. Sebab, dengan bertani organik, petani tidak lagi perlu pupuk kimia dan pestisida. “Petani jadi tidak bergantung pada perusahaan pupuk dan pestisida untuk mengelola pertaniannya,” katanya.

Adat dan budaya Bali pun, menurut Kartini, sangat mendukung pola pertanian organik. Tumpak bubuh dan penjor adalah dua contoh budaya Bali yang mendukung agar manusia tidak merusak alam. “Seluruh bagian penjor itu kan hasil pertanian. Jadi maknanya adalah agar kita menggunakan sumber daya alam yang sudah kita miliki, bukan dengan mengambil dari tempat lain. Apalagi sampai tergantung,” tuturnya.

Karena itu, Kartini melalui BOA juga gencar mengampanyekan pertanian organik itu ke berbagai tempat di Bali. Misalnya di Kintamani, Wongaya Gede, Petang, dan Pipid (Karangasem). “Mereka tinggal menggunakan sumber daya yang sudah ada di tempat masing-masing,” kata dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana Bali itu.

Menggunakan sumber daya lokal, seperti halnya petani di Bedugul, dilakukan pula oleh petani di Wongaya Betan, Kecamatan Penebel, Tabanan. Petani padi di kaki gunung Batukaru ini pun sudah beralih dari penggunaan bahan-bahan kimia ke bahan organik.

Kelompok petani Somya Pertiwi di Wongaya Betan bahkan lebih maju. Mereka membuat pusat pelatihan pertanian organik di tanah seluas sekitar 35 are dengan fasilitas balai pertemuan, kantor, perpustakaan, toko, hingga ruang menginap untuk tamu. Internet pun sudah ada di tempat berjarak sekitar 65 km utara Denpasar ini. Di pusat pelatihan ini pun ada tempat pengolahan padi dan produksi pupuk organik.

Bahan untuk pupuk organik di sini sedikit berbeda dengan petani di Bedugul yang hanya bersumber dari air kencing sapi. Petani di Wongaya Betan mencampur kotoran sapi dengan kotoran ayam dan pupuk kascing melalui teknik fermentasi. “Air kencing sapi hanya dipakai sebagai penambah cairan karena kandungan air di kotoran sapi tergolong kecil,” kata I Nengah Miasa, Ketua Kelompok Somya Pertiwi.

Menurut Miasa, petani di Wongaya Betan pun beralih ke pertanian organik sejak 2,5 tahun lalu. Meski demikian, mereka sudah merintisnya sejak 1997. “Waktu hanya beberapa orang yang sudah mencoba. Tapi karena tidak ada pihak yang mendukung jadi ya optimal,” kata Miasa.

Ni Luh Kartini, yang mulai mengenalkan pertanian organik di Wongaya Betan sejak 10 tahun lalu, mengakui pada saat itu pertanian organik memang termasuk hal baru bagi petani di Wongaya Betan. “Banyak petani ragu pertanian organik bisa meningkatkan jumlah panen,” ujarnya.

Melalui pendekatan intensif, termasuk bersama pemerintah setempat, petani kemudian mau beralih ke pertanian organik. Salah satu alasannya memang karena pertanian dengan bahan-bahan kimia ternyata makin menurunkan jumlah panen. “Biaya pengolahan makin tinggi karena mahalnya pupuk dan pestisida tapi pendapatan mereka makin menurun,” kata Kartini.

Petani setempat lalu mencoba pertanian organik. Mereka menggunakan pupuk sendiri dari kotoran ayam, kotoran sapi, pupuk kascing, dan air kencing sapi. Ternyata hasil mereka malah lebih bagus. Sebelumnya mereka mendapat padi 5 ton per hektar. Kini mereka bisa mendapat 6,2 hingga 7 ton per hektar. “Sebenarnya hasil panen kami tidak berbeda jauh. Tapi karena kami tidak mengeluarkan biaya untuk beli pupuk dan pestisida, jadi pendapatan kami lebih banyak,” aku Miasa.

Kini, 30 anggota subak Wongaya Betan seluruhnya menggunakan pupuk dan pembasmi hama organik di lahan seluas 98 hektar. “Tidak hanya pendapatan yang lebih baik, kami juga merasa lebih bahagia karena tidak lagi takut kena penyakit akibat pupuk kimia dan pestisida,” kata Miasa

disunting dari : pertanian-organik-meningkatkan-taraf-hidup-petani-bali



Blog Stats

  • 26,755 dor-dor
free counters

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: