04
Mar
09

Joehari Bangga Jadi Petani Organik

Sebuah irama yang kontras sekali, ketika pagi saat mentari mulai naik di semak belukar lereng gunung Merapi suara pekikan Klaus Meine dari kelompok musik cadas masa lalu Scorpions mengalahkan suara cericit burung kecil. Always Somewhere menyeruak diantara semak-semak perdu dan cuaca dingin. “Biar di dalam ladang yang jauh dari keramaian, petani harus tetap bergembira. Musik salah satu yang menambah semangat,” kata Joehari Yusuf (40) petani dari Aie Angek Kecamatan X Koto Tanah Datar. Pilihan lagu yang ditebarkan dengan loudspeaker aktif berdaya tinggi memang kontras dengan alam sekitar. Musik cadas seperti itu asing bagi kultur di Aie Angek. Tapi Joehari yang bergelar St. Rajo Intan ini memang menyukai musik-musik rock seperti itu. Walhasil dengan pilihan musiknya yang seperti itu saja sudah membuatnya berbeda dengan kehidupan sekeliling apalagi caranya bertani. Ia memilih bertani dengan pendekatan organik daripada pertanian konvensional yang sangat dependensi terhadap pestisida dan pupuk kimia. Sejak memantapkan diri menjadi petani pada 10 tahun yang silam, ia sudah menyadari bahwa secara konvensional hasilnya mungkin bisa sangat besar, tetapi dampaknya terhadap lahan sungguh besar pula. Ia memilih bertani tidak menurut naluri dan kebiasaan-kebiasaan penduduk setempat, melainkan terlebih dulu memahami teori-teori pertanian. Pria yang hanya tamat SMP itu gemar membaca. Majalah Trubus menjadi santapannya setiap terbit. Dari situ secara otodidak ia belajar bertani, khususnya pola organik. “Saya lihat kondisi lahan di daerah ini (kecamatan X Koto) sudah sedemikian parahnya ‘dijajah’ pestisida dan pupuk anorganik. Saya tentu saja tak berdaya mengajak para petani meninggalkan pola konvensional dan beralik ke pola organik. Maka biarlah saya coba memberikan bukti dulu bahwa pola yang saya yakini baik ini benar-benar bermanfaat,” katanya. St. Rajo Intan bersama Fitri sang istri akhirnya menggunakan lahan milik keluarga Fitri untuk dipakai sebagai lahan bertani secara organik. Awalnya memang amat berat, karena dari segi produksi hasil tanaman buncis, kol, sawi, bawang daun, seledri dan cabai tak sebanyak yang dihasilkan oleh petani konvensional. Lagi pula ketika itu banyak daun-daun lobaknya yang yang hancur digerayangi ulat. “Pada awalnya saya harus berjuang dan mencari cara untuk membuat lahan ini menjadi alamiah kembali. Saya masih menggunakan kombinasi kompos dan pupuk kimia. Tapi secara berangsur-angsur prosentasi pupuk organiknya saya perbesar dan pupuk kimianya saya perkecil. Bersamaan dengan itu saya mulai mencari literatur-literatur untuk mengetahui kandungan zat apa saja yang ada dalam berbagai pestisida yang digunakan masyarakat daerah ini,” ujar pria yang pintar memetik gitar ini. Ketekunannya untuk mencari rahasia-rahasia pestisida itu akhirnya berbuah. Ia mendapatkan berbagai tanaman yang berguna menggantikan pestisida. Ia mulai tertarik dengan kencing sapi, kencing kambing untuk dijadikan pupuk. Ia juga meramu sendiri pestisida yang menurutnya mudah terureai hingga tidak membahayakan tanaman dan tanah. “Coba bayangkan, ulat saja sudah tidak doyan memakan kol yang disemprot dengan pestisida tertentu. Nah kol itu pula yang dimakan oleh manusia, artinya ulat jauh lebih pintar ketimbang manusia. Apakah kita akan meracuni orang banyak dengan produk pertanian yang penuh dengan racun dan bahan kimia pupuk?” katanya. Tahun-tahun pertama pergulatan Joehari dengan hama dan pemurnian kembali lahan sempat mendapat tudingan miring dari orang-orang di kampung itu. Tapi Ia tak pedulu. Apalagi beberapa waktu kemudian di Aie Angek justru didirikan kawasan sayur organik dan oleh Dinas Pertanian Provinsi dibuatlah di situ apa yang dinamakan Institut Pertanian Organik (IPO) IPO yang diharapkan jadi contoh dan ditularkan kepada masyarakat ternyata tidak serta merta diterima dan dipahami masyarakat. Tapi Joehari diam-diam menimba ilmu dari situ. Dengan hanya mendengar, bertanya-tanya ditambah kebiasaannya membaca akhirnya ia dapat memahami bahwa pertanian organik adalah pertanian masa depan yang hasilnya diharapkan oleh pasar. Orang di luar negeri lebih mencari produk pertanian organik dibanding yang anorganik. Perkembangan berikutnya dari pengelolaan lahan yang dilakukan Joehari, menunjukkan perubahan dahsyat. Dengan caranya sendiri, Joehari dikenal sebagai produsen buncis super yang ditunggu para toke. Buncis produksi Joehari dikenal dengan ukuran dan bentuknya sama dan rasanya jauh lebih manis dibanding buncis kebanyakan yang beredar di pasar. Dengan perlakuan organik itu pula, Joehari berhasil memperpanjang masa hidup buncisnya. “Orang bisa memanen sampai maksimal 10 kali, tapi buncis kami bisa dipanen sampai 20 kali dengan produksi hanya turun sekitar 10 persen saja pada panen ke 11 hingga paneh ke 20,” katanya mengisahkan. Pola yang sama juga diterapkan pada tanaman cabai. Jika cabai dengan perlakuan konvensional hanya bisa bertahan hidup 7 bulan dengan 10 kali panen, Joehari dan istrinya bisa melipatkandaka menjadi 1,5 tahun dengan 15 kali panen. “Khusus pada cabai, kita ‘memaksa’ tumbuh ceruk baru yang menghasilkan bunga baru dari cabai. Ini dilakukan pada saat panen ke 8. Jika diperkirakan harga masih akan membaik, maka kita ‘paksa’ tumbuh ceruk baru, itu sekaligus memperpanjang usia cabai,” ceritanya. Praktis dengan pendekatan yang disebut Joehari sebagai semi organik itu, ia bisa melipatkan produksi menjadi 3 kali lipat. Lalu bagaimana buncis yang bisa jadi berbentuk dan berkuruan sama itu? Buncis yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘Buncis si Intan’ di pasar hortikultura Koto Baru dan Padang Luar adalah hasil kerja keras Joehari dan Fitri selama berbulan-bulan. “Buncis yang akan saya jadikan bibit unggul dikarantina sampai 12 kali keturunan, sampai akhirnya saya temukan bibit terakhir yang sudah unggul tadi,” katanya. Ia mengaku tak segan membagi bibitnya kepada orang lain. Sayangnya belum banyak yang ‘tergoda’ mengikuti langkahnya. Petani muda yang amat energik ini amat mengagumkan visinya. Kelak ia akan menyatakan ‘perang’ dengan pupuk urea, NPK, pestisida dan semua racun tanaman. “Lahan saya harus bebas kimia anorganik. Saat ini ketergantungan saya pada bahan kimia yang tak terurai itu tinggal 15 persen saja, saya harus akhiri kegiatan merusak tanah dan merusak sayuran dengan racun,” katanya. Ia menemukan sendiri cara mendapatkan unsur-unsur Nitrogen, Phospat dan Kalium pengganti pupuk NPK. Sejumlah daun yang selama ini tak bernilai, tiba-tiba menjadi berguna. Dedaunan itu dia fragmentasikan untuk jadi cairan-cairan pengganti unsur-unsur kimia tadi. Ia juga melakukan kerjasama dengan para peternak di nagar-nagari sekeliling Aie Angek untuk mendapatkan urin sapi gratis. Tiap dua hari sekali ia mendapatkan 8 sampai 10 liter urin sapi, maka seluruh unusur nitrogen dari pupuk NPK praktis tak dia perlukan lagi. Ia tak sekedar sesumbar. Menurutnya semua hama tanaman termasuk babi, tupai, landak, kumbang dan sebagainya adalah bagian dari ekosistem yang tak perlu diputus matarantainya. “Kalau terputus, maka akibatnya tanamanlah yang jadi sasaran mereka,” kata dia. Karena itu hama babi yang senantiasa menyerang lahan pertanian penduduk harus dikendalikan dengan tidak memburunya. Joehari lalu menanam talas, ubi dan umbi-umbian di sekeliling ladangnya. Pada waktu-waktu senggang ia membawa ubi kayu ke hutan-hutan sekeliling untuk ditanam secara acak. Ketika sudah tumbuh dan berbuah, maka babi ‘memanen’nya tanpa harus menggangu lahan pertanian. Joehari juga dengan cerdik mengalihkan perhatian hama cabai dan buncis ke bunga matahari, terong dan terung pirus. Hasil pengamatannya, ternyata sejumlah hama memilih hinggap di tanaman dengan daun berbulu tersebut. Joehari dan Fitri memang menemukan dunianya sendiri. “Akhirnya saya tahu bertani itu adalah kehidupan yang indah. Secara sosial maupun secara ekonomi,” katanya sambil menyebutkan bahwa ia akan mengelola pertanian organik ini dengan serius. Menurut dia para petani sering lupa untuk membaca dan belajar untuk memahami alam. Sisi lain yang disorotnya adalah banyak petani yang tidak berhitung dengan waktu. “Kalau orang kantoran bekerja tujuh jam sehari dengan pendapatan yang pas-pasan, maka mestinya petani juga mulai mengjitung jam kerjanya. Jangan sampai setelah pekerjaan menyemai benih yang menghabiskan waktu 1 jam, lalu enam jam lainnya bermalas-masalan. Pokoknya jadi petani itu enak dan sangat prospektif,” kata pria yang sebelum terjun jadi petani adalah pekerja serabutan mulai dari jual beli kendaraan bekas, menjual nasi, sopir sampai penganggur. Kini dengan panen ‘berketerusan’ itu Joehari dan Fitri sudah dapat hidup tenang. Ia hanya berharap kalau saja Pemkab Tanah Datar mau bermurah hati membantunya 2 ekor sapi untuk diambil urinenya, ia akan sangat bahagia sekali. “Dari pada Pak Bupati Shadiq marah-marah karena pupuk langka, sebaiknya anjurkan saja petani beternak sapi atau kambing dan semua pertanian di Tanah Datar jadikan berpola organik. Biarlah perusahaan pupuk itu tutup dan pabrik pestisida beralih usaha,” katanya. Masa depan petani? “Jangan khawatir, jika Anda punya lahan, tanamlah di sekelilingnya pohon mahoni. Jika 100 batang saja ditanam, dengan harga saat ini sampai Rp7 juta/batang maka saat usia mahoni mencapai 15 tahun Anda sudah mendapatkan dana pensiun Rp700 juta. Apakah uang sebanyak itu untuk hidup jadi petani masih kecil?” tanyanya. Joehari sudah menanam 200 batang di sekeliling ladangnya. Kini gitar akustik merk Kapok berdentang dipetik Joehari dari pondoknya di tengah ladang karena disambungkan ke loudspeaker. “Aku pernah punya cita-cita jadi petani kecil……” bait lagu Ebiet G Ade itu meluncur dari mulutnya. Ia mewakili semua ekosistem dalam komunitasnya itu untuk bergembira menyambut hari depan. Di situ tak ada pemusnahan, tak ada pemutusan mata rantai ekosistem ueko yanche edrie

diambil dari blog :joehari-bangga-jadi-petani-organik



Blog Stats

  • 26,755 dor-dor
free counters

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: