04
Mar
09

Penggembur Tanah dari Bahan Murah

Bokashi
Penggembur Tanah dari Bahan Murah

SALAH satu alasan pemerintah mengapa harga pupuk kimia naik karena mahalnya bahan baku pupuk yang masih harus diimpor. Bila memang selama ini soal bahan baku selalu menjadi penyebab naiknya harga pupuk, maka sudah sepatutnya kebijakan pilihan teknologi mestinya mulai beralih pada kebijakan penggunaan pupuk alternatif yang bahan bakunya tersedia secara lokal.

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pertanian organik pun kian meningkat. Petani kini sudah mulai melirik produk alami dan meminimalkan penggunaan bahan kimia. Petani mencoba menggunakan pupuk kandang dan pupuk kompos untuk menyuburkan lahan marginal. Mereka juga mempergunakan teknologi fermentasi untuk mempercepat proses pembusukan bahan organik.

Secara ekonomis, alternatif sistem usaha tani ini cukup menguntungkan. Karena bisa menghemat biaya produksi. Filosofi usaha tani tak lagi mengeksploitasi sumber alam, tetapi justru mengoptimalkan potensi sumber daya alam (SDA). Tanah tak lagi dipaksa menjadi media miskin unsur hara, namun tanah telah diolah dan dijaga dengan memberi nutrisi bahan organik.

Pupuk Bokashi

Lahan kritis yang terjadi akibat eksploitasi sumber daya lahan yang melebihi daya dukung lingkungan, menyebabkan tanah tersebut kurang baik jika digunakan sebagai lokasi bercocok tanam. Aktivitas penanganan yang mungkin dilakukan yaitu dengan mengadakan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT). Disamping itu, untuk meningkatkan kesuburan tanah, dapat diperkaya dengan bahan organik yang berkualitas diantaranya melalui pemberian pupuk bokashi.

Pengembangan pupuk bokashi saat ini telah lazim dilaksanakan oleh petani/ kelompok tani hutan (KTH) di Jateng, misalnya di Semarang, Boyolali, Pekalongan, Wonogiri dan sekitarnya. Pemanfaatannya untuk memperkaya kesuburan lahan pada tanaman pertanian diantara tegakan hutan. Hasilnya cukup menggembirakan. Selain dapat mendayagunakan sisa limbah pertaman untuk menyuburkan tanaman, juga bisa mendatangkan keuntungan yang lumayan.

Teknologi EM-4

Pembuatan kompos secara tradisional memerlukan waktu antara 3-4 bulan. Sekarang dengan menerapkan teknologi Effective Microorganism (EM-4), pembuatan pupuk kompos hanya memerlukan waktu 1-4 hari.

Hasil pupuk kompos dari proses dekomposisi bahan organik ini populer dikenal dengan nama ”Bokashi”. Kata bokashi diambil dari bahasa Jepang yang berarti bahan organik yang terfermentasi. Oleh orang Indonesia kata bokashi ada yang memperpanjang menjadi ”bahan organik kaya akan sumber kehidupan”.

Larutan EM-4 yang berisi mikroorganisme fermentasi tersebut pertama kali ditemukan oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus, Jepang. Jumlah mikroorganisme fermentasi di dalam EM-4 sangat banyak, sekitar 80 genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang dapat bekerja secara efektif dalam memfermentasikan bahan organik. Dari sekian banyak makroorganisme, ada lima golongan yang pokok, yakni bakteri fotosintetik, Lactobacillus sp, Streptomyces sp., ragi (yeast(, Actinomycetes.

Pemanfaatan bokashi secara rutin dapat berdampak nyata terhadap peningkatan kesuburan lahan, tanah menjadi gembur, serta airasi, sifat fisik, sifat kimia dan biologi tanah menjadi lebih baik.

Proses Pembuatan

Resep pembuatan pupuk bokashi, siapkan EM-4 sebanyak 20 sendok makan (0,1 liter), kotoran ternak 80 kg, arang sekam 10 kg, dedak halus 10 kg, molase 10 sendok makan (0,05 liter), air 5-10 liter. Semua bahan tadi dicampur secara merata.

Masukkan bahan tadi dalam kantong plastik atau karung goni. Lalu ditutup rapat-rapat. Setiap 5 jam (minimal setengah hari) suhu adonan agar diukur panasnya dengan termometer. Kemudian diaduk dan ditutup kembali. Setelah 5 hari, bahan-bahan tersebut mengalami proses perubahan menjadi bokashi dan siap digunakan di lapangan.

Dalam proses fermentasi bahan organik, mikroorganisme akan bekerja dengan baik jika kondisinya sesuai. Proses fermentasi akan berlangsung dalam kondisi anaerob, pH rendah (3-4), kadar garam dan kadar gula tinggi, kandungan air sedang (30-40%). Selama pembuatan bokashi ada beberapa hal yang penting diperhatikan, yakni suhu (temperatur) dan suhu ideal dalam proses pembuatan bokashi 40-50 derajat Celcius.

Jika suhunya melebihi atau kurang, proses dekomposisi dan fermentasi tak sempurna. Sehingga jika dipupukkan pada tanaman maka hasilnya kurang optimal. Pembuatan bokashi tak boleh terkena sinar matahari langsung. Jadi senantiasa terlindung dari terik matahari.

Dedak yang harus dipakai dalam pembuatan bokashi adalah dedak padi yang halus dan lembut. Limbah pertanian lainnya, seperti jerami, limbah penggilingan kopi yang halus dapat juga dijadikan bahan bokashi. Kebutuhan dedak ini sekitar 10% dari total bokashi yang akan dihasilkan. Jika bahan organik berupa kotoran hewan, kebutuhannya lebih banyak sekitar 15-20%. Sebagai sumber energi atau makanan bakteri, pada tahap awal sebelum proses fermentasi diperlukan molase (tetes tebu). Molase ini dapat diganti dengan gula putih atau gula merah.

Cokelat Kehitaman

Kriteria hasil bokashi yang baik berwarna cokelat kehitaman, berstruktur remah, kadar air 30-40%, pH sekitar 7 dalam kategori sedang. Perbandingan unsur karbon (C) dan nitrogen (N) atau C/N ratio rata-rata 10-20.

Aplikasi di lapangan terhadap pupuk bokashi relatif mudah. Lahan 1 ha membutuhkan bokashi sekitar 3-5 ton. Teknis aplikasinya, seluruh bokashi tersebut disebar sebelum lahan diolah (dibajak). Diupayakan agar pupuk organik itu menyebar secara merata dalam areal 1 ha. Lalu dilakukan pembajakan, sehingga bokashi tercampur secara sempurna dengan tanah sekitarnya.

Dapat juga bokashi disebar setelah bedengan terbentuk. Hal ini dilakukan sebelum bedengan diberi mulsa. Setelah tersebar, bedengan juga bisa diberi dolomit untuk mengusahakan agar derajat keasaman (pH) tanah menjadi optimal. Dosis dolomit sekitar 1 ton per ha. (Agus Wariyanto-35)

sumber : www.suaramerdeka.com



Blog Stats

  • 26,755 dor-dor
free counters

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: