11
Mar
09

[agromania] Prakteknya ada di Pelatihan Eka Agro Rama

Wed, 18 Apr 2007 09:39:13 -0700

Asep Wowon Sudianta adalah anggota Kelompok Tani Lestari Warna
Mekar, Desa Nanggleng Kulon, Kecamatan Nanggleng, Cipeundeuy, Jawa
Barat. Asep memutuskan bertani organik tahun 1999 ketika menghadiri
acara peringatan Hari Pangan Sedunia di Ciwedey, Bandung. Ia
tertarik bertani organik karena bertani organik mendidik petani
untuk mandiri. Petani tidak tergantung lagi pada industri pupuk,
pestisida, dan perusahaan benih.
Warga Nanggleng Kulon, yang sebagian besar petani, dipaksa
bergantung pada industri pupuk dan pestisida, cerita Asep. Bahkan
petani harus membeli benih. Sehingga biaya produksi membengkak.
Sebaliknya, petani tidak merdeka menentukan harga panenannya. Harga
ditentukan oleh orang di luar bidang pertanian. Hasil dari penjualan
panenan tidak sebanding dengan biaya produksi.
“Apa yang dilakukan petani dalam bertani hanya sekedar untuk
bertahan hidup dan tidak memberikan nilai tambah bagi kehidupan
sosial ekonomi,” demikian tulis Asep mengungkap keluhan petani.

Manfaat dan kendala
Menurut Asep, manfaat pertanian organik atau pertanian lestari
antara lain pengolahan tanah menjadi lebih ringan karena tanah lebih
gembur. Apabila kekurangan air, tanah tidak cepat retak. Karena
tidak menggunakan pupuk atau pestisida kimia, petani menjadi lebih
sehat. Petani organik lebih sejahtera karena biaya produksi cukup
rendah sedangkan hasil panen lumayan tinggi.
“Yang tidak kalah penting, pengetahuan petani menjadi meningkat
karena pertanian organik mendidik petani untuk trampil dan pintar,”
demikian pendapat Asep. Dengan sering diadakannya pelatihan telah
menghilangkan kesan bahwa petani itu kuper dan bodoh dan membuktikan
pertani juga berpengatahuan luas.
Ada kendalanya, ungkap Asep, “Pada awal bertani organik terasa berat
karena penggunaan pupuk yang cukup banyak, sedangkan hasilnya belum
bisa banyak pada awalnya.”

Pemasaran
Kelompok Tani Lestari Warna Mekar mengikuti pemasaran alternatif
berdasarkan kepercayaan dan saling menguntungkan antara produsen
atau petani dan konsumen atau pembeli. Caranya? Mereka mencoba
menghubungi orang-orang yang peduli pertanian organik agar bersedia
membeli panenan.
Mereka juga mencoba mengembangkan pasar yang lebih luas dengan
menjangkau kelompok mahasiwa yang tersebar di beberapa perguruan
tinggi di Kota Bandung . Menurut Asep, permintaan produk pertanian
organik cukup tinggi sayangnya produksinya masih relatif sedikit.

Benih
Asep awal memulai bertani organik mendapat bantuan benih. Setelah
bisa memanen, Asep harus menyediakan benih sendiri. Ia akan memilih
bulir-bulit atau gabah-gabah yang bagus. Biasanya bulir-bulir yang
bagus tumbuh dari rumpun padi yang dekat pematang. Asep mengambil
bakal benih dari rumpun dengan jaraknya kurang lebih 2 m dari
pematang sawah. Ia memilih rumpun yang sudah tua, gabah sudah masak
dengan ciri-ciri batangnya tinggi, bentuk dan besarnya biji seragam.
Benih khusus yang sudah dipilih kemudian dijemur selama empat hari.
Bila ingin ditanam, benih direndam dalam ember besar selama dua hari
dua malam. Gabah-gabah yang mengambang dibuang.
Setelah empat hari, benih diangkat dari air rendaman untuk kemudian
dibiarkan sampai berkecambah. Setelah berkecambah baru benih bisa
disemai. Jika lahan sudah siap ditanami, benih yang sudah
berkecambah bisa langsung ditanam
Jika benih harus disimpan, benih dimasukkan ke dalam kantong
plastik. Kantong plastik diikat lalu dimasukkan ke dalam kotak yang
juga ditutup rapat.

Pupuk kompos
Bahan-bahan untuk pupuk kompos antara lain kotoran ternak, abu
dapur, tahi gergaji, jerami, pohon pisang, dan rumput-rumputan.
Pupuk kompos harus dibuat di tempat yang lembab dan tidak boleh
terkena sinar matahari langsung. Jadi wadah pembuatan kompos atau
lokasi pembuatan kompos harus terlindung atau beratap.
Cara pembuatannya: bahan-bahan untuk kompos ditumpuk berlapis-lapis
atau bertingkat. Setiap lapis terdiri dari satu jenis bahan dengan
ketebalan masing-masing lapis kurang lebih 5 cm. Lapisan paling atas
yang terakhir ditutup dengan tanah setebal 15 cm.
Ketika menumpuk bahan kompos di setiap lapis disemprotkan EM Lestari
untuk membantu mempercepat perkembangbiakan bakteri sehingga kompos
cepat jadi.
Setiap dua minggu tumpukan diperiksa. Kurang lebih sebulan tumpukan
sudah menjadi kompos.

Pestisida
Bahan-bahan pestisida alami, yang biasa digunakan Asep, antara lain
gadung, daun picung, kecubung, dan brotowali.
Semua bahan-bahan itu ditumbuk atau diparut. Perasan bahan-bahan
yang sudah ditumbuh atau diparut itulah bisa digunakan sebagai
pestisida alami.

Bertani organik juga menjadi solusi, demikian tulis Asep dalam
buku “Belajar dari Petani. Kumpulan pengalaman bertani organik,”
segar bagi petani di daerahnya yang sedang dililit berbagai masalah
seperti harga pupuk dan pestisida yang mahal dan harga beras yang
jatuh.
(Catatan Redaksi: tulisan diambil dari buku “Belajar dari Petani.
Kumpulan pengalaman bertani organik,” editor Wangsit St. dan Daniel
Supriyana, diterbitkan oleh SPTN-HPS – Lesman – Mitra Tani).

Kang Ali, pertani dari Kampung Kaungucip, Desa Lemah Karya,
Karawang, terinspirasi membuat pupuk cair organik dari kencing domba
setelah ia menonton tayangan salah satu stasiun televisi. Berikut
ini langkah-langkah pembuatan pupuk cair dari air kencing domba.
Selamat mencoba!

Alat yang diperlukan
1. Plastik ukuran 1,5 m x 2 m
2. Tali plastik
3. Jerigen ukuran 20 liter sebanyak dua buah
4. Corong plastik satu buah
5. Saringan satu buah

Bahan
1. Air kencing domba sebanyak 20 liter
2.Terasi sebanyak dua ons
3. Gula merah sebanyak dua ons
4. Telur sebanyak satu butir
5. Air hujan sebanyak10 liter

Cara pembuatan
1. Plastik dibentangkan di bawah kandang domba untuk menampung
kencing. Ujung-ujung plastik diikat pada tiang kandang dengan tali
plastik
2. Air kencing domba setiap dua hari sekali disaring untuk
memisahkan cairan dari kotoran
3. Simpan air kencing dalam jerigen yang sudah disiapkan
4.Campurkan seluruh bahan menjadi satu, diaduk, kemudian disimpan
selama satu minggu
5. Setiap dua hari sekali tutup jerigen dibuka agar gas yang
terbentuk keluar, kemudian diaduk dan setelah itu ditutup kembali
6. Setelah satu minggu barulah pupuk cair dapat digunakan, meskipun
semakin lama disimpan pupuk semakin baik

Penggunaan
Pupuk cair dari kencing domba dapat digunakan untuk memupuk tanaman
padi. Pupuk disemprotkan menggunakan sprayer.
Dosisnya: dua gelas pupuk cair per 10 liter air. Penyemprotan
dilakukan dalam tiga tahap yaitu:
1. Di persemaian saat padi berumur 15 hari setelah tebar
2. Di sawah yaitu saat tanaman padi berumur 10 hari setelah tanam
3. Penyemprotan selanjutnya dilakukan dua minggu sekali sampai
panen, berarti total ada tujuh kali penyemprotan selama satu musim
tanam
Kang Ali mengujicobakan pupuk buatannya di lahan padinya seluas 750
m2 dan lahan pembanding seluas 800 ha. Hasilnya, berdasarkan hasil
pengamatan seminggu sekali:
1. Batang padi jadi lebih kuat, tegak, hijau, dan keras
2. Bulir padi lebih jernih
3. Pupuk cair dari air kencing domba dapat mengusir hama seperti
hama putih palsu,penggerek batang padi, wereng, dan serangga
pengganggu lainnya. Menurut Kang Ali kemungkinan karena baunya
4. Produksi lahan yang disemprot dengan pupuk cair seluas 750 m2
menghasilkan 350 kg gabah, sedangkan lahan pembanding tanpa pupuk
cair (800m2) hasilnya 300 kg

Kendala bau
Ada kendala kecil saat pembuatan dan penyemprotan yaitu baunya yang
menusuk hidung. Masalah lain adalah kesulitan dalam
mensosialisasikan teknologi pupuk ini kepada teman-teman pertani
lain karena mereka tidak mau repot dalam membuat dan lebih lagi
karena baunya.
(Sumber dari buku: “Angin di Hamparan Karawang,” oleh Ratam S,
Solihin T, A Agus, Eno Mayono, dan Hery Prasetiyo, diterbitkan oleh
Forum Petani Karawang dan Nastari)

Kiriman: Agus Ramada S – Eka Agro Rama
Direktur Utama Eka Agro Rama

sumber : www.mail-archive.com/agromania


0 Responses to “[agromania] Prakteknya ada di Pelatihan Eka Agro Rama”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 26,755 dor-dor
free counters

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: