30
Sep
13

Perikanan

07 Januari 2010 | 13:45 wib

 

Perkembangan usaha budidaya ikan air tawar di Indonesia telah memberikan peranan yang nyata dalam pembangunan perikanan khususnya guna pemenuhan konsumsi ikan dalam negeri. Usaha ini tidak terlepas dari berbagai macam kendala, salah satunya adalah serangan penyakit yang dapat menyebabkan penurunan produksi budidaya.

Penanganan serangan penyakit pada usaha budidaya ikan air tawar harus dilakukan diagnose sesegera mungkin dengan mengetahui penyebab penyakit baik penyakit non pathogen maupun pathogen (viral, jamur, bacterial, dan parasitik) sehingga tepat dalam tindakan pengobatan. Berikut ini adalah beberapa contoh tindakan penanganan khususnya penyakit pada ikan air tawar yang disebabkan oleh parasit.

WHITE SPOT (Ich)

White spot atau dikenal juga sebagai penyakit “ich” merupakan penyakit ikan yang disebabkan oleh parasit. Penyakit ini umum dijumpai pada hamper seluruh spesies ikan. Secara potensial white spot dapat berakibat mematikan. Penyakit ini ditandai dengan munculnya bintik-bintik putih disekujur tubuh dan juga sirip.Siklus hidup dan cara memperbanyak diri inang white spot yang bervariasi memegang peranan penting terhadap berjangkitnya penyakit tersebut.

Tanda-tanda Penyakit

Siklus hidup white spot terdiri dari beberapa tahap, tahapan tersebut secara umum dapat dibagi dua yaitu tahapan infektif dan tahapan tidak infektif. Gejala klinis white spot merupakan akibat dari bentuk tahapan siklus infektif. Ujud dari “white spot” pada tahapan infektif ini dikenal sebagai Trophont.

Trophont hidup dalam lapisan epidermis kulit, insang atau rongga mulut. Parasit ini hidup di lapisan dalam kulit, berdekatan dengan lapisan basal lamina. Ikan-ikan yang terjangkit akan menunjukkan penampakan berupa bintik-bintik putih pada sirip, tubuh, insang atau mulut. Pada awal perkembangannya bintik tersebut tidak akan bias dilihat dengan mata. Tapi pada saat parasit tersebut makan, tumbuh dan membesar, sehingga bisa mencapai 0.5 – 1 mm, bintik tersebut dapat dengan mudah dikenali.

Ikan yang terjangkit ringan sering dijumpai menggosok-gosokan tubuhnya pad benda-benda lain di dalam akuarium sebagai respon terhadap terjadinya iritasi pada kulit mereka. Sedangkan ikan yang terjangkit berat akan menunjukkan perilaku abnormal dan disertai dengan perubahan fisiologis. Mereka akan tampak gelisah atau meluncur kesana kemari dengan cepat dan siripnya tampak bergetar (mungkin sebagai akibat terjadinya iritasi pada sirip tersebut). Pada ikan yang terjangkit sangan parah, mereka akan tampak lesu, atau terapung di permukaan. Kulitnya berubah menjadi pucat dan mengelupas. Sirip tampak robek-robek dan compang-camping. Insang juga tampak memucat. Terjadinya kerusakan pada kulit dan insang ini akan memicu ikan mengalami stres osmotic dan stress pernafasan. Stres pernafasan ditunjukkan dengan pergerakan tutup insang yang cepat (megap-megap) dan ikan tampak mengapung di permukaan dalam usahanya untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. Apabila ini terjadi peluang ikan untuk dapat disembuhkan akan relative sangat kecil.

Penyebab

White spot disebabkan oleh parasit yang diberi nama :Ichtyophtirius Multfilis. Parasit ini diketahui terdiri dari beberapa strain. Ichtyophtirius Multifilis memiliki toleransi suhu yang lebar, oleh karena itu, penyakit white spot dapat dijumpai baik pada ikan-ikan yang hidup di air dingin maupun yang hidup di daerah tropis.

White spot dapat masuk ke dalam kolam melalui ikan yang terjangkit, atau melalui air yang mengandung parasit pada fase berenang. Tanaman air dan pakan hidup dapat pula menjadi perantara white spot terutama apabila lingkungan hidup tanaman dan pakan hidup tersebut telah terjangkit white spot sebelumnya. Fase berenang white spot hanya dapat bertahan hidup selama beberapa jam saja sebelum harus menempel pada inangnya. Oleh karena itu, biasanya mereka akan mati selama proses pengolahan.

Pencegahan dan Perawatan

Tindakan karantina terhadap ikan baru merupakan tindakan pencegahan yang sangat dianjurkan dalam menghindari berjangkitnya white sport. Pada dasarnya white spot termasuk mudah dihilangkan apabila diketahui secara dini. Berbagai produk anti white spot banyak dijumpai di toko – toko akiuarium. Produk ini biasanya terdiri dari senyawa senyawa kimia seperti metil biru, malachite green, dan atau formalin. Meskipun demikian, ketiga senyawa itu tidak akan mampu menghancurkan fase infektif yang hidup di dalam tubuh kulit ikan. Oleh karena itu, pemberian bahan ini harus dilakukan berulang-ulang untuk menghilangkan white spot secara menyeluruh dari kolam.

Perlakuan perendaman dengan garam dalam jangka panjang (selama 7 hari pada dosis 2 ppt) diketahui dapat menghilangkan white spot. Perlakuan ini hanya dapat dilakukan pada ikan-ikan yang tahan terhadap garam. Ikan yang lolos dari serangan white spot diketahui akan memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.

Kekebalan ini dapat bertahan selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Meskipun demikian ketahanan ini dapat menurun apabila ikan yang bersangkutan mengalami stress stau terjangkit penyakit lain. Pada suatu serangan white spot sering dijumpai ada ikan dari jenis yang sama tidak terjangkit oleh white spot tersebut sama sekali. Hal ini merupakan salah satu petunjuk adanya fungsi kekebalan tadi. Setiap jenis ikan memiliki tingkat kerentanan yang berbeda terhadap white spot.

Kutu Air ( Argulus )

Argulus atau kutu ikan merupakan parasit ikan dari golongan udang-udangan keluarga Branchira. Parasit ini masuk ke dalam kolam biasanya melalui pakan hidup. Sifat parasitic Argulus cenderung temporer dengan mencari inangnya secara acak dan dapat berpindah dengan bebas. Argulus dapat bertahan selama beberapa hari di luar tubuh ikan. Argulus menempel pada ikan dengan menggunakan alat penghisap khusus dengan menancapkan mulut jarumnya pada tubuh ikan untuk menyuntikan anti koagulan darah.

Baru kemudian parasit tersebut mengkonsumsi darah dari inangnya. Argulus biasanya kawin dalam air terbuka. Argulus betina dapat menghasilkan 100 butir telur atau lebih yang ditempelkannya pada permukaan benda padat. Telur akan menetas dalam waktu 25 hari. Masing-masing telur pada umumnya menetas pada waktu yang berbeda Larva Argulus dengan ukuran 0.6 mm bersifat planktonik sebelum akhirnya menyerang ikan. Larva ini akan berganti kulit selama 8 kali sebelum mencapai dewasa dengan ukuran 3 – 3.5 mm. Hal ini berlangsung dalam waktu 5 minggu.

Serangan Argulus tidak menimbulkan ancaman kematian pada ikan yang bersangkutan. Akan tetapi luka yang ditimbulkannya dapat menjadi rentan terhadap serangan jamur dan bakteri. Pada serangan yang sangat parah ikan dapat kehilangan banyak darah, atau juga mengalami stress osmotik akibat luka-luka yang menganga sehingga tidak tertutup kemungkinan pada serangan yang sangat parah dapat menyebabkan kematian. Argulus diketahui dapat pula menjadi vector penyakit lainnya.

Tanda-tanda serangan

Argulus melukai kulit dalam rangka mendapatkan darah korbannya sehingga sering menimbulkan memar merah pada bekas “gigitannya”. Selain dengan tanda ini, kehadiran parasit itu sendiri dapat mudah dilihat dengan mata telanjang berupa mahluk transparan berbentuk bulat mendatar dengan diameter 5 – 12 mm. Sepasang bintik mata dapat dilihat dibagian kepalanya. Ikan yang terjangkit akan menjadi gelisah, meluncur kesana kemari, atau terkadang melompat keluar dari permukaan air; serta menggosokan badannya pada benda lainnya. Serangan yang parah bisa menyebabkan ikan menjadi malas, kehilangan nafsu makan, dan warna berubah sebagai akibat produksi lender yang berlebihan.

Pencegahan dan Pengobatan

Senyawa organfosorus diketahui efektif dalam menghilangkan Argulus. Alternatif lain adalah dengan perendaman jangka pendek dalam larutan standar formalin (37-47%) sebanyak 0.125 mg/liter air selama satu jam atau dalam larutan kalium permanganate dengan dosis 10 mg/liter selama 30 menit.

Lakukan aerasi selama proses perendaman dilakukan. Apabila parasit hanya dijumpai dalam jumlah sedikit maka pengambilan secara fisik bisa dilakukan dengan menggunakan pincet. Luka yang ditinggalkan selanjutnya dibubuhi antiseptic. Cara ini akan efektif apabila kemudian ikan dipindahkan ke tempat lain yang bebas benih Argulus. Lakukan karantina pada pakan hidup yang diambil langsung dari alam untuk mencegah terjangkitnya kolam oleh Argulus.

Oleh : Ir. Arief Rahman Hakim

Copas : http://diskanlut-jateng.go.id/index.php/read/news/detail/39


0 Responses to “Perikanan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 26,755 dor-dor
free counters

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: